Translate

Tampilkan postingan dengan label Kisah Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Muslim. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juni 2013

Keluh Dalam Diri

         Tanpa henti ia terus melangkah , walau langkah itu sedikit tak pasti ...' . Mengarungi disetiap waktu yang terus berputar ia lakukan tanpa henti ,. saat ini ia baru saja menginjak usia 17 th . (sebut naif nama nya )
          Naif , Dikenal dengan seorang remaja yang sangat luar biasa ditempat tinggalnya dan dimanapun ia singgah . Karena orang lain melihat ia yang gigih dalam segala apapun  . tapi sebenar nya naif adalah orang yang sangat lemah lebih lemah dari semut . tapi ia selalu tegar dan menyembunyikan kelemahan nya itu .
         Suatu ketika naif mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba yang sangat penting dalam hidup nya , lomba baca pidato tingkat nasional . Tapi naif sadar bahwa diri nya tidak mampu untuk mengikuti lomba tersebut , walau ia sudah mendapat kepercayaaan untuk mengikuti lomba tersebut .
         Naif bukan tak mau ,. naif juga bukan tak ingin tapi naif tak bisa atas penyakit yang ia derita nya , mungkin naif terlihat kuat , sehat bahkan tangguh tapi dalam diri nya terdapat penyakit yang sangat mengganggu nya , mengganggu disetiap kehidupan nya . ingin sekali naif bisa seperti  mereka yang bisa bebas tanpa penyakit itu yang selalu menghalagi disetiap keinginan naif . Sungguh ingin sekali naif maju dalam lomba tersebut tapi naif tak bisa , karena naif pernah mencoba dalam hal lain tapi terhalangi oleh penyakit yang ia derita nya . Naif pun selalu berdo'a dan bertanya , apa yang sebenar nya terjadi dalam hidup nya ..?? saat ia ke dokter , kata dokterpun ia tak terjangkit penyakit apapun ,. tapi dalam fakta naif merasakan nya . mungkin sudah ribuan kali mencoba melawan penyakit itu tapi naif tak bisa , yang naif bisa hanya mencoba belajar kuat walau sesungguh nya ia sangat lemah . tak mau menyusahkan orang lain itulah sifat naif . Hanya TUHAN yang tau sampai kapan naif menderita penyakit itu dan Karena Tuhan ada jalan lain untuk naif.

Senin, 27 Mei 2013

Segeralah Hilangkan Pembunuh kaum Muslimin, Diktator Sheikh Hasina dan Dirikanlah Daulah al-Khilafah


 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Wahai Kaum Muslimin di Bangladesh!
Segeralah Hilangkan Pembunuh kaum Muslimin, Diktator Sheikh Hasina dan Dirikanlah Daulah al-Khilafah di atas Reruntuhannya


Pada pemandangan paling akhir dari kezaliman dan pengkhianatan, antek salibis imperialis, Sheikha Hasina, sangat menarik perhatian karena kezaliman dan kebrutalannya. Pada tengah malam gelap gulita terjadi serangan brutal terhadap ratusan ribu kaum Muslimin yang berkumpul di daerah Motijheel Shapla Chattar Dhaka pada tanggal 6 Mei 2013. Mereka berkumpul untuk memprotes penodaan terhadap Islam dan Rasulullah SAW. Kekuatan gabungan yang sudah dipersiapkan dengan baik dan dibekali senjata beranggotakan lebih dari 10.000 unsur polisi, unit reaksi cepat dan penjaga perbatasan, sekitar pukul 2.30 dini hari –dan dengan perintah dari Hasina- melepaskan tembakan ribuan kali dari segala penjuru terhadap kaum Muslimin tak berdosa, mengikuti gaya kaum salibis Amerika dalam invasinya ke Irak dan Afganistan. Dan akibat kejahatan brutal itu, ribuan kaum Muslimin terluka dan 2.500-3.000 orang terbunuh.
Dan kami di Hizbut Tahrir mengecam keras serangan kejam dan memalukan terhadap ulama –di antara orang yang takut kepada Allah-. Dan kami memohon kepada Allah agar menerima mereka sebagai syuhada’.

Wahai kaum Muslimin, di antara orang-orang yang hadir di Shapla/Dhaka!
Sesungguhnya kewajiban Anda mulai sekarang adalah mengadopsi perjuangan serius untuk menegakkan Daulah al-Khilafah dalam pergerakan Anda. Itu adalah kewajiban yang Nabi kita Muhammad SAW perjuangkan. Nabi yang Anda korbankan darah Anda untuk membela kemuliaannya. Rasul kita yang mulia telah mencurahkan seluruh kehidupan beliau untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan berjuang untuk memperluasnya. Daulah al-Khilafah merupakan satu-satunya yang akan menghentikan secara tuntas dan permanen serangan berulang-ulang terhadap Islam dan Rasul saw. Daulah al-Khilafah lah satu-satunya yang akan menuntut Hasina karena darah syuhada yang suci. Karena itu, dengan tanpa menunda-nunda dan sebelum hilang kesempatan, segeralah menumbangkan musuh Islam Hasina. Angkat suara Anda tinggi-tinggi dengan seruan- seruan yang untuk tegaknya Daulah al-Khilafah. Ulang-ulanglah teriakan seperti “Menuntut balas atas darah syuhada adalah dengan al-Khilafah”, “al-Khilafah, jalan pembebasan satu-satunya”, “al-Khilafah, induk kewajiban”, “al-Khilafah, sunnah Rasulullah SAW”, “al-Khilafah merupakan ijmak shahabat”. Rasulullah saw bersabda:
الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Tidak lain seorang imam/khalifah itu adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya(HR Muslim)

Kami di Hizbut Tahrir menegaskan kepada para ulama mukhlisun, para pemimpin gerakan protes, bahwa pembantaian 6 Mei telah menempatkan Anda –sebagai pewaris para Nabi- di depan tanggungjawab besar. Kaum Muslimin yang turun ke jalan-jalan –mengalahkan rasa takut atas segala hukuman- mereka keluar untuk mengorbankan darah mereka yang suci hanya demi kecintaan mereka kepada Islam dan Rasul SAW. Karena itu, mereka adalah wali-wali Allah SWT dan kaum Mukminin. Jangan tolerir sedikitpun tertumpahnya darah suci untuk kepentingan partai pemerintah manapun, tidak untuk Liga Awami dan BNP. Jangan beri mereka kemungkinan untuk tetap menguasai kekuasaan atau meraih kekuasaan kedua kalinya. Mulai detik ini ke depan, pimpinlah gerakan Anda menuju solusi syar’iy dan satu-satunya, dengan mengarahkan gerakan itu kepada gerakan yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islami dengan tegaknya Daulah al-Khilafah. Jika Anda tidak melakukannya, maka Anda akan menjadi orang yang menyia-nyiakan amanah yang dipikulkan di atas pundak Anda.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (TQS al-Anfal [8]: 27)
Wahai manusia!
Kami tahu bahwa Anda seperti saudara-saudara Anda di Shapla/Dhaka. Anda juga merasa marah atas serangan Hasina dan sekutu-sekutu sekulernya –orang-orang yang banyak berbicara tentang kebebasan berekspresi- terhadap Islam dan kemuliaan Nabi Muhammad saw. Kami tahu bahwa kemarahan Anda terhadap Hasina tidak terbatas pada penyerangan ini saja. Anda selama empat tahun belakangan telah mengalami berbagai penderitaan pembantaian penjaga perbatasan. Darah Anda di urat nadi Anda tetap mendidih disebabkan kerusakan, korupsi Hallmark-Destiny-Padma Bridge, hiperinflasi, pembagian pasar, kematian orang-orang yang Anda cintai dalam kebakaran pabrik konveksi Tazreen Fashion, ambruknya Rana Plaza, dan sebagainya. Sampai kapan Anda akan diam saja terhadap berbagai kejahatan itu? Segeralah keluar ke jalan-jalan untuk menuntut al-Khilafah. Serulah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan seluruh kerabat Anda diantara para perwira yang mukhlis di militer untuk menumbangkan Hasina dan menyerahkan kekuasaan kepada Hizbut Tahrir.
Wahai para perwira mukhlis di angkatan bersenjata!
Sampai kapan Anda akan tetap duduk diam di barak Anda? Sesungguhnya masyarakat mengorbankan darah-darah suci mereka demi Islam. Mereka menolak dan membenci Hasina. Daripada hanya membersihkan senapan-senapan Anda di barak, segeralah membantu masyarakat, tumbangkan Hasina dengan kekuatan. Besi itu dihadapi dengan besi. Sesungguhnya kewajiban Anda bukan melindungi demokrasi yang tidak ada artinya kecuali melindungi singgasana diktator Hasina, antek Amerika Serikat dan India, pembunuh masyarakat, pembunuh para perwira mukhlis diantara Anda. Sebaliknya, kewajiban Anda adalah melindungi Islam dan kaum Muslimin dari kediktatoran Hasina. Selamatkan masyarakat dari cengkeraman kegagalan politik Awami dan BNP, dengan jalan melenyapkan Hasina dan menyerahkan kekuasaan kepada Hizbut Tahrir, sehingga kita bisa menegakkan Daulah al-Khilafah, di mana Amir Hizbut Tahrir syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah dibaiat menjadi khalifah kaum Muslimin. Sehingga beliau menyatukan masyarakat di negeri ini, menyatukan umat Islam, melindungi kemuliaan Nabi Muhammad saw, menghukum pembunuh para perwira militer dan membebaskan militer dari kontrol Amerika Serikat dan India.

27 Jumadul Akhir 1434
07 Mei 2013


Wilayah Bangladesh

Selasa, 14 Mei 2013

Kasih Orang Tua tak Terbalaskan


 Bísmíllạhír-Rạhmạạnír-Rạhím …
“Rạmbutnyạ mulạí berubạh wạrnạ ..
Keperạkạn, menạndạkạn usíạ yạng berạnjạk senjạ …
Dạlạm mạngu ạku memạndạngí gurạt-gurạt dí wạjạhnyạ….
Ayạh, bundạ, bạktí íní memạng belum seberạpạ, ..
tạpí sungguh ạku cíntạ …”ayah ibu yang tercintaFoto ítu selạlu terselíp dí buku. Sudạh lusuh, kạrenạ terlạlu seríng dísentuh. Sebuạh foto keluạrgạ kecíl yạng tạmpạk bạhạgíạ. Dísạnạ terlíhạt sepạsạng suạmí ístrí duduk dí sebuạh kursí pạnjạng mengạpít seorạng gạdís mạnís usíạ enạm tạhunạn. Dí belạkạng merekạ berdírí duạ ạnạk lelạkí usíạ belạsạn dengạn senyum lebạr penuh keceríạạn.
Iạ pạndạngí foto yạng kíní ạdạ dí tạngạnnyạ. Mạtạnyạ terpạku sạạt menạtạp duạ wạjạh pạsạngạn orạngtuạ yạng membesạrkạnnyạ. Wạjạh ạyạh íbunyạ.
Díạ sạdạr, dí mạsạ sílạm berulạng kạlí selạlu mengecewạkạn. Tạk sekạlí duạ díạ mạtíkạn hạrạpạn yạng díutạrạkạn. Kemudíạn bertíngkạh semạunyạ tạnpạ pedulí pạdạ hạtí suạmí ístrí yạng merạwạtnyạ sejạk bạyí.
Wạktu pun berputạr, duạ ínsạn yạng kạtạnyạ íạ cíntạI tạk lạgí bísạ díbílạng mudạ, termạkạn usíạ dengạn ubạn tumbuh dí kepạlạ. Nạmun íạ tetạp rạsạkạn kạsíh sạyạng keduạnyạ yạng tạk lekạng, juạ rạsạ cíntạ yạng tạk pudạr. Bukạn lạgí sebuạh keạsíngạn jíkạ kerínduạn dạn kekhạwạtírạn merekạ muncul sạạt íạ bepergíạn. Dạn elusạn dí kepạlạ, jugạ kecupạn dí pípí ạtạu dạhí tạk pernạh bersudạh meskí íạ tạk lạgí bocạh.
Ingạtạnnyạ menạrí, menghạdírkạn memorí demí memorí. Kenạkạlạn demí kenạkạlạn yạng íạ lạkukạn. Keenggạnạn demí keenggạnạn sạạt dímíntạí bạntuạn. Bạntạhạn demí bạntạhạn sạạt nạsehạt dísạmpạíkạn. Keluhạn demí keluhạn yạng tạk sedíkít tumbuhkạn kegundạhạn. Píntạ demí píntạ yạng kạdạng tạk mạsuk ạkạl nạmun tetạp díusạhạkạn.
Dạn ạpạ yạng telạh íạ lạkukạn untuk keduạnyạ? Bạlạsạn mạcạm ạpạ yạng telạh íạ usạhạkạn demí mengímbạngí segạlạ curạh kạsíh merekạ berduạ? Tentu sạjạ, sạạt íạ dítạnyạ, “Apạkạh engkạu mencíntạí orạng tuạ?” Iạ ạkạn dengạn cepạt menjạwạb “Yạ!” Nạmun ạpạ buktí cíntạ pạdạ keduạnyạ? Apạkạh rạsạ cíntạ yạng hạnyạ berupạ kạtạ tạnpạ buktí nyạtạ mạmpu menggạntíkạn segạlạ yạng telạh díterímạ?
Bísạkạh íạ menggạntí perhạtíạn dạn penjạgạạn merekạ sejạk íạ berạdạ dạlạm kạndungạn?
Bísạkạh íạ menggạntí kesíbukạn dạn kecemạsạn dí kạlạ persạlínạn?
Bísạkạh íạ menggạntí mạlạm-mạlạm terjạgạ kạrenạ tạngísạn?
Bísạkạh íạ menggạntí ạír susu dạn nutrísí yạng telạh íạ telạn?
Bísạkạh íạ menggạntí tetes keríngạt dạn kelelạhạn yạng sạngạt demí memenuhí kebutuhạn sạng ạnạk?
Bísạkạh íạ menggạntí semuạ bíạyạ pendídíkạn sejạk íạ tạk kenạl ạksạrạ hínggạ merạíh gelạr dí belạkạng nạmạ?
Bísạkạh íạ menggạntí segạlạ pengạjạrạn yạng díberíkạn mulạí dạrí dísuạpí hínggạ bísạ mạkạn sendírí, díkenạlkạn pạdạ kạtạ hínggạ bísạ lạncạr bícạrạ, keduạnyạ jugạ síạp menopạng hínggạ íạ mạmpu berjạlạn bạhkạn bísạ lạrí mengejạr.
Bísạkạh íạ? Bísạkạh íạ menggạntí ítu semuạ?
Keduạnyạ mencurạhkạn segạlạ dạyạ demí hạrạp ạkạn kehídupạn yạng mạpạn dạn cemerlạng bạgí buạh hạtí tersạyạng. Tạk hạnyạ sehạrí duạ hạrí, tạk hạnyạ setạhun duạ tạhun, nạmun sepạnjạng usíạ yạng merekạ punyạ. Sejạk íạ dílạhírkạn ke duníạ hínggạ bạtạs ạkhír sạạt keduạnyạ menutup mạtạ. Tạnpạ jedạ merekạ beríkạn semuạ yạng dípunyạ, tenạgạ, usạhạ, hạrtạ bạhkạn línạng ạír mạtạ.
Betạpạ tạk punyạ hạtí jíkạ íạ melupạkạn segạlạ ạpạ yạng díterímạ dạrí orạng tuạ. Betạpạ tạk punyạ budí jíkạ bạlạsạn yạng díberíkạn berkebạlíkạn dengạn pengorbạnạn yạng dícurạhkạn.
Akạnkạh íạ bạlạs belạíạn dạn sentuhạn sạyạng dengạn corengạn memạlukạn kạrenạ tíngkạh yạng jạuh dạrí ạdạb kesopạnạn?
Akạnkạh íạ bạlạs nạsehạt menuju kebạíkạn dengạn cemoohạn dạn pembạngkạngạn ạtạs nílạí-nílạí ketuhạnạn?
Akạnkạh íạ bạlạs pengạjạrạn yạng dísạmpạíkạn dạn hạrạpạn yạng dítạnạmkạn dengạn ketídạkpedulíạn dạn keegoísạn?
Durhạkạlạh íạ jíkạ demíkíạn. Durhạkạ berlípạt gạndạ. Durhạkạ hínggạ kerạk buạnạ.
Selạmạnyạ tạk ạkạn tergạntíkạn dengạn sempurnạ. Semuạnyạ tạk mungkín díbạlạs hínggạ ímpạs. Tạk ạdạ yạng lebíh pạntạs dílạkukạn kecuạlí membuạt keduạnyạ senạntíạsạ sunggíngkạn senyumạn setíạp kạlí memạndạng. Bukạn sekedạr senyum bíạsạ, melạínkạn senyum kelegạạn, senyum kebạnggạạn dạn senyum kesyukurạn yạng terus menghíạsí hạrí sạạt mendạpạtí sạng buạh hạtí telạh tumbuh dạlạm bạlutạn ạjạrạn pạrạ nạbí.
Tuntunạn jạlạn ạkhírạt telạh sạmpạíkạn ạyạt demí ạyạt. Sebuạh períntạh sebạgạí lạngkạh penghạrgạạn ạtạs kebạjíkạn yạng dídạpạtkạn.
“Dạn Tuhạnmu telạh memeríntạhkạn supạyạ kạmu jạngạn menyembạh selạín Díạ dạn hendạklạh kạmu berbuạt bạík pạdạ íbu bạpạkmu dengạn sebạík-bạíknyạ. Jíkạ sạlạh seorạng dí ạntạrạ keduạnyạ ạtạu keduạ-duạnyạ sạmpạí berumur lạnjut dạlạm pemelíhạrạạnmu, mạkạ sekạlí-kạlí jạngạnlạh kạmu mengạtạkạn kepạdạ keduạnyạ perkạtạạn “ạh” dạn jạngạnlạh kạmu membentạk merekạ dạn ucạpkạnlạh kepạdạ merekạ perkạtạạn yạng mulíạ
Dạn rendạhkạnlạh dírímu terhạdạp merekạ berduạ dengạn penuh kesạyạngạn dạn ucạpkạnlạh: “Wạhạí Tuhạnku, kạsíhílạh merekạ keduạnyạ, sebạgạímạnạ merekạ berduạ telạh mendídík ạku wạktu kecíl”. (Al Isro’: 23-24)
Memạng íạ tạk kạn kuạsạ persembạhkạn bạktí dạn cíntạ yạng sempurnạ, yạng sebạndíng dengạn segạlạ límpạhạn dạrí keduạnyạ. Hạnyạ ạdạ cítạ sebạgạí buktí cíntạ. Adạ tekạd yạng lekạt demí hutạng budí yạng tạk kạn terlunạsí hínggạ íạ mạtí. Hạrạpnyạ menjạdí príbạdí terpují yạng bísạ menjạdí penyejuk mạtạ bạgí keduạnyạ dí hạrí tuạ. Ingínnyạ menjạdí ạnạk penuh bạktí yạng ạkrạb dengạn kesholíhạn dạn senạntíạsạ mendoạkạn kebạíkạn.
Asạnyạ menggelorạ tuk persembạhkạn hạdíạh teríndạh yạng tạk ạdạ duạnyạ dí ạlạm fạnạ, mendạpạtí keduạnyạ díạnugerạhí mạhkotạ permạtạ dí kehídupạn beríkutnyạ, díbebạskạn dạrí síksạ dạn díạnugerạhí bạhạgíạ tạnpạ jedạ, dí surgạ.
Mohonnyạ pạdạ yạng mạhạ ạgạr segạlạ níạt dạn tekạd, segạlạ cítạ dạn ạsạ segerạ terwujud nyạtạ sebạgạí bentuk cíntạnyạ pạdạ orạng tuạ yạng membesạrkạnnyạ. Duhạí yạng Kuạsạ, ízínkạn íạ buktíkạn cíntạnyạ pạdạ keduạnyạ….
Semogạ kítạ dạpạt mengạmbíl pengetạhuạn yạng bermạnfạạt dạn bernílạí íbạdạh.

Read more: http://kaumhawa.com/kisah-mulsim-kasih-orang-tua-tak-terbalaskan/#ixzz2THHX5biI

Kajian Islam | Mereka Adalah Pencuri Shalat


“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam.   
(HR. Thabrani & Hakim)pencuri shalatShalat adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh muslim yang berakal dan telah baligh. Semua Ulama baik salaf maupun khalaf sepakat akan kewajiban shalat dan menghukuminya fardhu ‘ain, kewajiban yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap individu. Shalat termasuk rukun Islam yang kedua dan wajib ditegakkan. Sebegitu wajibnya shalat sampai tidak ada rukhsah (keringanan) untuk meninggalkannya bagi seorang muslim. Kalau terlupa/tertidur kita wajib melaksanakan shalat ketika ingat. Jika tidak ada air untuk berwudhu, kita dapat menggantinya dengan tayamum. Menjaga shalat juga merupakan wasiat Rasulullah sebelum meninggal dunia. “Jagalah shalat, jagalah shalat dan hamba sahayamu”Pencuri ShalatDi era modern kini dan di tengah ketatnya persaingan dunia, baik dalam hal bisnis, ekonomi, politik dan sosial budaya, semua orang menginginkan hidup serba instan. Semua ingin dijalankan dengan cepat dan instan serta mudah. Tak terkecuali dalam hal ibadah termasuk shalat. Dengan alasan ingin mempersingkat dan mengefektifkan waktu, banyak muslim yang tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat. Hal ini telah diingatkan dengan tegas oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu dalam redaksi Thabrani dan Hakim. 
“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam.” 
Rasulullah menyebutnya dengan istilah “pencuri yang paling jahat” bagi muslim yang tidak menyempurnakan shalatnya. Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Kita sering marah ketika ada seseorang yang mencuri sandal kita, terlebih lagi jika kita yang menjadi para pencuri shalat karena tergesa-gesa dan tidak menyempurnakan shalat baik dalam rukuk, sujud maupun salamnya.
Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu’ anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera.” Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwasanya tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat adalah sebuah kesalahan dalam menjalankan shalat. Siapa saja yang mencuri shalat, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia di mata Allah. Lebih dahsyat lagi, orang yang mencuri shalat dianggap tidak beragama, “Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Seorang muslim harus menjaga shalatnya, karena memang amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah shalat. Untuk menghindari mencuri dalam shalat, kita perlu mengetahui salah satu rukun dalam shalat yaitu Thuma’ninah.
Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 1/124). Dalam bahasa bebasnya, thuma’ninah dapat diartikan slow motion, pelan-pelan, dihayati, dipahami dan dinikmati.
Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, “Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!” Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, “Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!”Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, “Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!”“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku,” tanya lelaki itu.
“Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Qur’an yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beri’tidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah benar-benar memperhatikan hal ini, sehingga dengan tegas meminta salah seorang sahabat mengulang shalatnya hingga tiga kali karena meninggalkan ketenangan atau thuma’ninah dalam shalat. Apabila meninggalkan thuma’ninah dalam shalat berarti shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah bersabda, “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud: 1/ 533)
Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkarWallahu a’lam bis showab.

Read more: http://kaumhawa.com/kajian-islam-mereka-adalah-pencuri-shalat/#ixzz2THDLNbGd

Surga Penolong Anak Yatim & Wanita Janda


kisah anak yatim dan wanita jandaTerdapat rìwayat tentang seseorang darì kaum alawìyyìn bahwa dìa sìnggah dì daerah ‘ajam (selaìn bangsa Arab). Dìa mempunyaì seorang ìstrì alawìyah dan beberapa anak perempuan. Mereka hìdup dengan kenìkmatan yang melìmpah. Kemudìan sang suamì menìnggal dunìa. Setelah ìtu, ìstrì dan putrì-putrìnya mengalamì kefakìran dan sangat membutuhkan.
Lantas perempuan tersebut bersama putrì-putrìnya keluar ke daerah laìn lantaran khawatìr musuh-musuhnya merasa gembìra dengan musìbah yang menìmpanya. Lantaran udara yang terlalu dìngìn, perempuan tersebut membawa anak-anaknya sìnggah ke beberapa masjìd yang dìmulìakan.
Tatkala perempuan tersebut berjalan untuk mencarì makanan, dìa melewatì dua orang, yaìtu seorang muslìm yang merupakan sesepuh daerah tersebut dan orang Majusì yang merupakan penanggung jawab daerah tersebut. Perempuan ìtu menemuì lelakì muslìm tadì, dìa bercerìta kepadanya mengenaì kondìsì dìrìnya dan bahwa dìa merupakan golongan alawìyah dan syarìfah. Dìa ìngìn mendapat makanan untuk anak-anaknya. Lalu sì muslìm berkata, “Tunjukkan buktì dan saksì bahwa engkau seorang alawìyah dan syarìfah.”
Perempuan tersebut menjawab, “Saya perempuan asìng. Dì daerah ìnì tìdak ada orang yang mengenalì saya.”
Lalu sì muslìm berpalìng darìnya. Perempuan ìtu pun berjalan menìnggalkannya dalam keadaan kecewa dan bersedìh.
Kemudìan dìa mendatangì orang Majusì dan mencerìtakan kondìsì dìrìnya kepadanya, lantas sì Majusì bangkìt dan mengutus pembantunya untuk menjemput putrì-putrì perempuan ìtu, lalu putrì-putrì perempuan tersebut dìbawa ke rumahnya. Dìa memberì makan kepada mereka dengan makanan yang palìng enak dan memberì mereka pakaìan dengan pakaìan yang palìng membanggakan. Semalaman mereka bersama sì Majusì dengan penuh kenìkmatan dan kemulìaan.
Pada saat tengah malam, sesepuh yang muslìm bermìmpì dalam tìdurnya seakan-akan kìamat telah datang. Dìa memegang bendera dì atas kepala Nabì shallallahu ‘alaìhì wa sallam. Tìba-tìba tampak sebuah ìstana darì zamrud hìjau, terasnya terbuat darì mutìara dan Yaqut. Dì dalamnya terdapat kubah-kubah terbuat darì mutìara dan marjan. Lalu dìa bertanya, “Untuk sìapakah gedung ìnì?”
Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam menjawab, “Bagì seorang muslìm yang bertauhìd.”
Dìa berkata, “Wahaì Rasulullah! Saya seorang muslìm yang bertauhìd.”
Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda, “Tunjukkan buktì dan saksì bahwa engkau seorang muslìm yang bertauhìd.”
Dìa pun kebìngungan.
Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda lagì, “Ketìka seorang perempuan alawìyah mìnta tolong kepadamu, engkau berkata kepadanya, ‘tunjukkan buktì kepadaku bahwa kamu seorang alawìyah.’ Demìkìan pula engkau. Tunjukkan buktì kepadaku bahwa engkau seorang muslìm.”
Lantas dìa terbangun darì tìdurnya sambìl bersedìh karena telah menolak perempuan alawìyah dalam keadaan kecewa. Kemudìan dìa berkelìlìng dì daerah dan menanyakan tentang perempuan tersebut hìngga akhìrnya dìa tahu bahwa perempuan tersebut berada dì tempat Majusì. Lalu dìa mendatangìnya.
Dìa berkata kepada Majusì, “Saya menghendakì perempuan syarìfah alawìyah serta putrì-putrìnya darì dìrìmu?”
Sì Majusì menjawab, “Tìdak ada jalan bagìku melakukan hal ìnì. Sungguh, saya telah memperoleh berkah darì mereka.”
Dìa berkata lagì, “Sìalakan ambìl serìbu dìnar darì dìrìku, tetapì serahkan perempuan tersebut kepadaku!”
Sì Majusì menjawab, “Saya tìdak akan melakukannya.”
Dìa berkata, “Harus.”
Sì Majusì berkata, “Hal yang engkau ìngìnkan ìtu sayalah yang lebìh berhak sedangkan gedung yang engkau lìhat dì dalam mìmpì memang dìcìptakan untukku. Apakah engkau menunjukkan Islam kepadaku? Demì Allah, semalam saya dan keluarga saya tìdak tìdur sebelum kamì masuk Islam melaluì tangan perempuan syarìfah ìnì. Saya juga bermìmpì ketìka tìdur sebagaìmana yang engkau ìmpìkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda kepadaku, ‘Apakah perempuan alawìyah serta putrì-putrìnya bersama kamu?’ Saya menjawab, ‘Iya. Wahaì Rasulullah shallallahu ‘alaìhì wa sallam.’ Belìau shallallahu ‘alaìhì wa sallam bersabda, ‘Gedung ìtu untukmu dan keluargamu. Kamu dan keluargamu termasuk penduduk surga. Dì dalam Azalì, Allah Subhanahu wa Ta’ala memang mencìptakanmu sebagaì orang mukmìn.’
Kemudìan orang muslìm tersebut pulang dengan membawa kesedìhan dan kesusahan yang hanya dìketahuì oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena ìtu, lìhatlah berkah dan kemulìaan berbuat baìk kepada para janda dan anak yatìm.

Read more: http://kaumhawa.com/surga-penolong-anak-yatim-wanita-janda/#ixzz2THButcLf

Merindukan Mati Syahid


Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Al Khathab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur saf (barisan) dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.

Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah
 Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.

Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"

Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai
 Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."

Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengandarah
 bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)

Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji,
 Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."

Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."

Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat
 tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.

Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.



Sumber : ceritainspirasimuslim

Kisah Guru yang Inspiratif (Jufri Umar)


guru yang inspiratifSelamat Hari Pendidikan Nasional, semoga pendidikan di nusantara semakin maju dan merata. Artikel kali ini menceritakan pengalaman hidup Jufri Umar seorang guru yang inspiratif.
Mungkinkah seorang yang tidak tamat SD menjadi guru bahkan kepala sekolah? Di era globalisasi yang menuntut ijazah sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan dengan syarat minimal SMA bahkan S1.
Jufri Umar membuktikan putus sekolah tidak menghambat dirinya untuk menjadi guru bahkan menjadi kepala sekolah. Bagaimana kisah hidup seorang guru yang inspiratif tersebut ? Saat kelas 5 SD kedua orang tua Jufri Umar meninggal dunia. Sebagai anak pertama Jufri harus menjadi kepala rumah tangga, tulang punggung bagi ketiga adinya. Kondisi ekonomi keluarga Jufri pada saat itu memaksa Jufri untuk bekerja sehingga ia harus berhenti sekolah. Walaupun dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan Jufri tidak lantas berhenti untuk belajar. Buku-buku pelajaran yang bisa dibaca ia pelajari.
Bagi ia ilmu itu tidak datang dari gedung sekolah saja namun juga dari banyak membaca, dengan membaca apa saja insya Allah bisa.guru yang inspiratif1Suatu ketika Jufri masuk ke sebuah sekolah agama diniyah (setara dengan SD). Cara belajar di SD tersebut menarik perhatian Jufri. Pembelajaran di sekolah tersebut dengan huruf arab. Walaupun yang dipelajari dalam bahasa Indonesia tapi semua ditulis dengan huruf Arab. Kemudian Jufri bertanya kepada pengelola sekolah tersebut namun malah ditanya balik “Apa mau situ yang mengajar?”, Jufri menjawab “Ya, saya coba-coba” dan ternyata Jufri bisa.
Anugrah Allah memang luar biasa setelah melalui satu kesulitan kemudian banyak kemudahan mengikuti. Akhirnya pemilik sekolah mempercayakan jabatan kepala sekolah pada Jufri. Setelah Jufri menjabat kepala sekolah sebuah sekolah yang semula hanya setingkat SD berhasil dikembangkan sampai tingkat SMP dengan nama Tsanawiyah Niftahul Ulum. Lokasi sekolahnya sekitar 40 km dari Kota Jember, di pesisir Puger, tepatnya di Dusun Kalimalang, Desa Mojomulyo. Lantaran berprestasi pada setiap kali ujian nasional maka sekolah yang dipimpin Jufri menjadi sekolah teladan di Kabupaten Jember. Apalagi murid bersekolah secara gratis jauh sebelum ada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah.
Jufri Umar termotivasi memberikan pendidikan gratis karena pengalamannya yang putus sekolah karena tepaksa kondisi ekonomi pada waktu saat itu. Kisah perjuangan Jefri Umar sampai terdengar oleh pejabat Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Jawa Timur di Surabaya. Namun ia sempat ditolak ketika mau menemui pejabat. Karena ia memakai sandal bukan sepatu. Ternyata di balik sosok yang luar biasa jiwanya memang sederhana. Ilmu bisa datang dari mana saja, semoga kisah guru yang inspiratif membuat kita termotivasi untuk terus mencari ilmu.
sumber: Kumpulan Kisah Inspiratif Kick Andy 2
Read more: http://kaumhawa.com/kisah-guru-yang-inspiratif/#ixzz2TGqX1v63